News

sewakantor-update.com

Teknologi Karya Anak Bangsa di Balik Pembangunan Tol Layang Jakarta – Cikampek

Teknologi Karya Anak Bangsa di Balik Pembangunan Tol Layang Jakarta – Cikampek

Akhir-akhir ini perbincangan mengenai tol layang Jakarta – Cikampek atau yang sering disebut sebagai Jakarta – Cikampek Elevated menjadi topik yang digaungkan dimana-mana. Pasalnya jalan ini merupakan jalan tol layang terpanjang yang ada di Indonesia.

Jalan tol layang Jakarta – Cikampek juga menjadi jalan tol bertingkat (double decker motorway) pertama yang ada di Indonesia karena dibangun di atas jalan tol Jakarta – Cikampek.

Jalan tol layang yang dibangun sejak tahun 2017 tersebut telah diresmikan dan dibuka untuk pengendara umum pada 15 Desember 2019 kemarin. Tujuan pembangunan jalan tol layang sepanjang 36,84 kilometer ini tak lain dan tak bukan adalah untuk mengurai kemacetan yang ada di Ibukota Indonesia, Jakarta.

Ada fakta yang menarik di balik pembangunan Jakarta – Cikampek elevated ini yaitu teknologi yang digunakan dalam pengerjaannya merupakan teknologi Sosrobahu yang diciptakan dan dikembangkan oleh anak bangsa, Ir. Tjokorda Raka Sukawati.

Beberapa dari kalian mungkin baru saja mendengar kata teknologi sosrobahu dan nama dari pembuatnya sendiri, Ir. Tjokorda Raka Sukawati. Untuk mengenal sosrobahu dan penciptanya lebih dekat, simak ulasan berikut ini.

Apa itu Teknologi Sosrobahu dan Siapa Pula Ir. Tjokorda Raka Sukawati?

Di dunia konstruksi bangunan, teknologi sosrobahu atau juga dikenal dengan Sistem Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH) tentu bukanlah hal yang asing lagi. Ini merupakan teknik konstruksi yang sering dipakai untuk membangun bahu lengan beton jalan raya.

Penggunaan teknik konstruksi sosrobahu membuat proses pembangunan jalan tidak mengganggu arus lalu lintas kendaraan yang berlalu lalang karena pada teknik ini lengan jalan layang ditempatkan sejajar dengan jalan yang terdapat di bawahnya dan kemudian diputar 90 derajat.

Dengan cara kerja yang efisien dan tidak mengganggu arus lalu lintas dalam pengerjaannya, teknik sosrobahu menjadi pilihan terbaik saat ingin membangun jalan layang yang ada di kota-kota besar tanpa menambah kemacetan.

Teknik sosrobahu sebenarnya sudah cukup lama dikenal. Berawal dari pengerjaan proyek pembangunan jalan layang Cawang – Tanjung Priok, seorang putra daerah kemudian memunculkan sebuah ide untuk membantu menguraikan masalah yang muncul mengenai pengerjaan proyek tersebut, ialah Ir. Tjokorda Raka Sukawati.

Ir. Tjokorda Raka Sukawati merupakan sang penemu teknologi konstruksi sosrobahu. Lahir di Ubud Bali pada tanggal 3 Mei 1931, beliau meraih gelar insinyur bidang teknik sipil di Institut Teknologi Bandung tahun 1962 dan memperoleh gelar doktor di Universitas Gajah Mada pada tahun 1996.

Kemudian teknologi konstruksi sosrobahu ini awalnya terinspirasi dari sebuah benda sederhana yang biasa digunakan yakni dongkrak hidrolik mobil.

Kala itu Ir. Tjokorda mengamati bahwa dongkrak yang digunakan untuk mengangkat mobil akan membuat badan mobil mudah diputar karena dongkrak tersebut berfungsi sebagai sumbu batangnya.

Ini selaras dengan hukum dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa benda seberat apapun akan mudah digeser jika tidak memiliki gaya gesek.

Setelah itu Ir. Tjokorda membuat percobaan awal dengan menggunakan silinder bergaris tengah 20 cm. Silinder ini berfungsi sebagai dongkrak hidrolik yang kemudian ditindih dengan beban beton seberat 80 ton. Tentu saja percobaan awal ini belum sempurna.

Untuk menyempurnakan percobaan, Ir. Tjokorda kemudian menggabungkan dasar utama hukum Pascal dengan beberapa parameter yang kemudian disebut sebagai rumus Sukawati. Rumus ini merupakanrumus baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Setelah melakukan beberapa kali percobaan, akhirnya Ir. Tjokorda membuat rancangan final yang kemudian diberi nama Landasan Putar Bebas Haluan (LPBH) atau yang lebih sering dikenal dengan teknologi konstruksi sosrobahu.

Artikel : https://sewakantor-update.com

Related News :

STNK Baru Jadi Alat Pembayaran, Konsumen Bisa Pilih Bank

Mau Bisnis Jual Beli Tanah? Cari Tahu Risikonya Dulu

WhatsApp chat